Pembelajaran dari Rumah Orang Tua Harus Aktip!

Belajar dari Rumah

Bagaimanapun, pendidikan harus tetap berjalan karena ini bukan hanya tentang masa depan generasi penerus negara, tetapi juga masa depan umat manusia. Apalagi jika kita semua sepakat bahwa dalam sejarah kehidupan manusia, pendidikan dalam segala bentuknya adalah proyek sosial yang dengannya segala macam kecerdasan manusia diasah agar bisa menjadi khalifah dalam kehidupan di muka bumi. Oleh karena itu, kita patut berterima kasih kepada para pendiri negeri ini, yang bersama-sama sepakat menjadikan pendidikan sebagai salah satu cita-cita kemerdekaan. Selain itu, berdasarkan kejelian, pembukaan UUD menegaskan bahwa kehidupan ideologis bangsa adalah tujuan kelangsungan hidup bangsa. Sehingga pendidikan harus tetap berjalan apapun kendalanya, termasuk pandemi Covid-19.

Pertanyaannya, mengapa ada kontroversi dan pro kontra jika sekolah dibuka pada awal tahun ajaran berikutnya? Satu pihak telah mengatakan dengan tegas dan antusias bahwa sekolah harus mulai tepat waktu dan menghindari ketinggalan mata pelajaran. Yang lain mengadvokasi keselamatan siswa, dengan alasan bahwa dimulainya sekolah harus ditunda. Bahkan, penolakan tersebut diperkuat oleh partainya dengan pernyataan tegas bahwa menjalankan sekolah itu seperti memberi makan anak-anak kita kepada hantu Corona yang belum pulang.

Jika ditelisik lebih jauh, kedua pemikiran yang kontradiktif ini menyimpang dari paradigma lama yang cenderung mereduksi makna pendidikan ke dalam konteks administrasi, yakni penyelenggaraan sekolah formal. Jika makna ini dijadikan argumen, maka tentu saja ketidakhadiran siswa di gedung sekolah akan menghentikan pembelajaran, sebaliknya kehadiran siswa di gedung sekolah sama saja dengan memberi mereka peluang untuk menyebarkan virus corona. Itu buah himalaga, ayah makan, ibu tidak makan. Padahal, seperti yang sering dikatakan Fasli Jalal, esensi pendidikan adalah belajar, bukan hanya sekolah. Sekolah itu sendiri sebagai lembaga pendidikan memiliki banyak bentuk yang kesemuanya diselenggarakan di Indonesia. Hanya saja banyak dari kita yang percaya bahwa hanya sekolah biasa sajalah pendidikan yang sebenarnya, sedangkan sekolah lain hanya untuk kesenangan, bawang, bahkan suplemen bagi para penderitanya.

Belajar dari Rumah: Persiapan New Normal

Sudah hampir tiga bulan sejak Menteri Mas (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia) mengeluarkan surat edaran tentang belajar di rumah (SFH) pada Maret 2020, anak-anak kita sudah belajar dan belajar di rumah selama hampir tiga bulan untuk terhindar dari wabah Covid 19. Apakah mereka semua berpura-pura? – Berpura-pura belajar? Apakah guru, dosen, kepala sekolah dan pejabat serta tenaga kependidikan lainnya nongkrong di rumah masing-masing atau sedang mempertimbangkan untuk dipenjara? Apakah SFH hanya tindakan sementara untuk menutupi ketidakmampuan pemerintah menjalankan sekolah seperti biasa? Ini pertanyaan bodoh karena kita berharap besok kita bisa kembali normal seperti kemarin. Bertanya secara positif dan bijak harus berakar pada semangat memasuki era new normal, yakni; pelajaran apa yang bisa kita petik dari SFH sebagai cara untuk memasuki era new normal? Paradigma dan praktik pendidikan apa di era sekolah normal lama yang harus kita tinggalkan? Seperti apa rencana ‘sekolah’ besok?

Padahal, malapetaka itu adalah krisis karena terjadi secara tiba-tiba dan tanpa peringatan, dan seperti yang dikatakan tulisan-tulisan lain, membawa wahyu perubahan. Akibatnya, tidak ada pemangku kepentingan yang siap, siap, siap menghadapinya, sehingga implementasi SFH masih banyak kekurangan. Tapi jika kita berpikir positif, kita bisa belajar banyak pelajaran berharga. Dari segi cara belajar, masih banyak cara belajar yang kita tolak sebelumnya, seperti belajar jarak jauh, home education, ujian sekolah, dll, selama kita mendaftar SFH. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa SFH mengembalikan pendidikan pada esensinya, yaitu belajar.

Hal ini juga mendorong bahwa selama SFH, banyak praktisi dan pemangku kepentingan pendidikan telah mengambil inisiatif dan menunjukkan keterampilan tersembunyi mereka, termasuk guru di garis depan. Pada Portal Master Sharing yang diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saat memasuki masa pandemi Covid-19, para guru membagikan ribuan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) online dan efektif diunduh oleh 200.000 pengguna dalam waktu 2 bulan dari seluruh tingkat sekolah.

Belajar dari Rumah
Previous Post

No more post

You May Also Like